About Banana Leaf Cafe

Banana Leaf Cafe pertama kali diluncurkan di kota Gudeg, D I Yogyakarta, tepatnya di Jl. Bedreg, No.39, Sambilegih, Depok-Sleman. Setelah dua tahun, PAPUAmart.com sebagai Toko Online pertama dari tanah Papua didirikan.

Banana Leaf Cafe Jayapura

Setelah beberapa tahun diluncurkan di D I Yogyakarta, Banana Leaf Cafe juga diluncurkan di Jayapura, tepatnya di daerah Skyline (lintas jalan baru), tersedia menu: Erom (Ubi) Bakar + Minyak Tawy dan Mbingga.

Tiket Papua

Banana Leaf Cafe juga melani pembelian tiket pesawat, tiket kereta api, pulsa biasa, pulsa data, pulsa listrik, pembayaran tagihan PDAM, berbagai macam layanan lainnya. Info lengkapnya bisa menghubungi kami di: 6282210183000

Banana Leaf Cafe Wamena

Banana Leaf Cafe juga diluncurkan di Wamena Town Centre. BL Cafe Wamena langsung dibuka oleh Kantor Pusat Koperasi Seba Usaha (KSU) Baliem Arabica bersama dengan pendiri Banana Leaf Cafe 2 di Skyline, Kota Jayapura.

PAPUA Web Host

Selain menyediakan menu makanan, minuman dan pembelian tiket serta pulsa, Banana Leaf Cafe juga menyediakan layanan Web dan Hosting serta layanan pembelian domain hingga desain website.

Booking Hotel & Tiket Tanpa Agen

Sunday, 27 December 2015

KSU Baliem Arabica



Ganti dengan Gambar Produk Anda

  • Nama Produk : Test Produk 6
  • Deskripsi : Isi dengan deskripsi produk
Rp 19,999

Saturday, 3 October 2015

1 Oktober 2015 Buah Merah Tabi sebanyak 25 Buah Tiba untukDiproses

Telah tiba 25 buah Tawy dari Single Origin Tanah Tabi dan setelah itu mulai memasuki tahapan proses produksi oleh Staff BANANA Leaf Cafe di Jalan Festival Danau Sentani, Khalkote, Sentani Timur, Jayapura, Papua.

Sari Minyak Tawy (atau dalam bahasa aslinya Tawy Yiwaunggen) saat ini sudah dijual di minimarket PAPUAmart.com di Jalan Raya Sentani, Hawai No. 05, Sentani Kota, Jayapura, Papua. Jarak dari Airport Jayapura tidak lebih dari 3 km.

Proses pembuatan Minyak Tawy akan berjalan selama 1 minggu, karena buah harus melewati beberapa proses produksi.

BANANA Leaf Cafe memproduksi Minyak Tawy dengan metode sangat sederhana, mendekati metode produksi asli di tengah Masyarakat Lani di Tanah Papua.

Kami menjamin, dan siapapun boleh datang menyelidiki, bahwa produk kami ialah higenis dan halal.

Kami tidak seperti produsen lain yang merahasiakan alamat fisik mereka, tetapi hanya mencantumkan nomor telepon dan email dan berusaha menjauhkan diri mereka dari para konsumen. Kami terbalik, kami membuka diri.

Di BANANA Leaf Cafe kami persilahkan Anda datang minum kopi sekaligus menyaksikan proses produksi Minyak Tawy.

Kami berdoa pada minggu depan semua produk yang diproses saat ini sudah masuk minimarket, yang kemudian bermanfaat bagi kesehatan, kebugaran dan kesembuhan umat manusia di manapun Anda berada.

Tuesday, 2 June 2015

Banana Leaf Cafe dan PAPUAmart.com sebagai sebuah Kesatuan Usaha

BANANA Leaf Cafe yang dalam bahasa Indonesia-pun tetap disebut BANANA Leaf Cafe, dengan tulisan "BANANA" dalam Huruf Besar (capitals) dan Leaf Cafe tulisan biasa merupakan ciri khusus dari cafe yang diluncurkan oleh KSU Baliem Arabica (KBA) pada tahun 2014.

BANANA Leaf Cafe pertama-tama diluncurkan dalam rangka menyambut Piala Dunia yang diselenggarakan di Brazil pada tahun 2014. Akan tetapi rencana tidak maksimal, promosi juga tidak maksimal, maka cafe ini tidak banyak dikunjungi selama Piala Dunia berlangsung.

Awal tahun 2015 BANANA Leaf Cafe, atau sering disingkat BLCafe mulai dijalankan lagi walaupun dengan pergumulan berat mengingat tidak banyak orang datang mengunjungi Cafe ini.

Faktor utama yang menghambat pengunjung datang ke BLCafe ialah letak atau lokasi Cafe yang begitu jauh dari keramaian. Sudah beberapa kali dilakukan pertemuan dan kesimpulan menjadi jelas bahwa memang lokasi Cafe harus dipikirkan ulang.

Dengan kesimpulan ini, maka pada pertengahan tahun 2015 ini direncanakan BANANA Leaf Cafe diluncurkan di Tanah Papua dan pada saat bersamaan memindahkan BLCafe di Yogyakarta dari Maguwoharjo ke wilayah yang lebih ramai atau di tengah kota.

Ada juga gagasan untuk membuka cabang BLCafe di Jakarta Selatan.

Yang disajikan di BLCafe sudah jelas, yaitu Kopi Papua murni dengan berbagai racikan. Kalau BLCafe sudah berjalan, maka menu-menu lain pasti akan diracik, baik menu Kopi maupun Menu makanan khas Papua lainnya.

BLCafe menunggu siapa saja Anda yang tertarik untuk mengembangkan sebuah Cafe bernuansa alamiah, dengan warna dominasi hijau sehijau Daun Pisang dengan gambar-gambar pepohonan pisang di seluruh ruang Cafe.

Segala sesuatu yang nampak di mata fisik kita merupakan pantulan dari segala-sesuatu yang tak kasak mata. Segala sestuatu yang dapat kita simak dan pahami secara fisik berakar ke dalam segala hal yang tidak nampak, dan bahkan tidak masuk akal sehat. Keduanya ialah fakta, yang harus kita yakini sebagai realitas,
demikian kata  Jhon Kwano, penggagas konsep BLCafe.

Saturday, 28 June 2014

Menu KOTA: Kopi Tawy di Banana Leaf Cafe berpotensi menjadi Kopi Cangkir Termahal

Banana Leaf Cafe memperkenalkan Menu Kopi Baru dengan nama Cangkir KoTa, yang berarti Kopi Tawy.

Tawy dalam bahasa Lani artinya Buah Merah. Maka kalau digabungkan antara Kopi dengan Tawy, maka dia menjadi secangkir Kota.

Buah Merah yang dijual KSU Baliem Arabica seharga Rp.800,- per mili-liter, yang berarti Rp.800.000,- per liter. Dalam sajian Menu Kota harga diturunkan menjadi Rp.500,- per mili-liter.

Dalam penyajiannya jumlah minyak Tawy yang ditambahkan ke dalam Kopi tergantung kepada selera dan kemampuan pembeli, dengan harga pokok Rp.500,- per mili-liter.

Di samping itu, harga Kopi Hitam disamakan dengan harga kopi biasa sebagaimana dijual di BLCafe. Silahkan rujuk ke Menu Minuman di sni.

Misalnya harga Kopi Hitam BBCoffee cangkir kecil ialah Rp.7.500,-, maka ditambah dengan harga KOTA untuk Kopi Sangkir Kecil ialah Rp.7.500,- + Rp.500,- / mili-liter, sehingga total harga Menu Kota di BLCafe ialah Rp.8.000,-

Tetapi kami jamin, pasti semua pemesan Menu Kota akan meminta lebih dari 1 mili-liter, sehingga minimal 2 mili-liter per cangkri kecil, menjadi seharga Rp.8.500,-

Walaupun dari sisi BLCafe menu ini kelihatan mahal, tetapi kalau Anda ke cafe mana saja di seluruh Indonesia dan memesan Kopi Wamena, maka harga Kopi Wamena gelas/ cangkir terkecil pasti lebih dari Rp.10.000,-. Paling tidak harganya urutan kedua dari harga Kopi Luwak.

Kalau kami di BLCafe menjual secangkir Kopi Wamena ini sama harganya dengan harga menu Kopi Wamena di cafe lain, maka tentu saja Menu Kota ini berpotensi menjadi kopi secangkir termahal. Tentu saja harga yang dipasang di sini bukan tapa alasan. Menu Kopi Kota bukan hanya kopi sehat, tetpai terlebih karena ini menu Kopi yang menyembuhkan.


Sekain dulu catatan sedikit dari Tim BBCafe, sekaligus sebagai perkenalan.

Friday, 20 June 2014

Hello world! Hello World Cup!

Pada hari pembukaan piala dunia Brazil 2014 tanggal 13 Juni 2014 dinihari keadaan ramai Nonton Bareng Mahasiswa Papua se-Yogyakarta diBANANA Leaf (BL) Cafe.

Pendukung kedua kubu saling main bayar-bayaran, taruhan dengan hukuman Kopi Wamena: Siapa yang kalah hukumannya minum kopi sampia mampus.

Ada juga hukumannya makan pinang dalam porsi double atau triple. Tentu saja BLCafe menyediakan semua ini untuk kebersamaan anak-anak Papua di Yogyakarta.

Menu yang tersedia cukup menarik, yaitu misalnya kita mulai dengan Variasi Menu Kopi Wamena:

  1. Kopi Wamena gelas kecil
  2. Kopi Wamena gelas sedang
  3. Kopi Wamena gelas besar dan
  4. Kopi Wamena gelas jumbo

Kemudian kopi-kopi lain produksi Indonesia juga disajikan, seperti:

  1. Torabika,
  2. Cappuccino
  3. White Koffie
  4. Kapal Api, dan sebagainya.

Menu makanan juga hadir, seperti IndoMie Goreng dan IndoMie Rebus (Kuah).

Para penonton, mahasiswa lelaki ataupun perempuan yang datang bersama-sama terlihat jelas menikmati pertandingan ini karena dari yang hadir jelas terbagi, ada yang mendukung tuan rumah Brasilia, ada juga yang mendukugn Kroasia.
Dari pantauan BLCafe terlihat lebih banyak penonton yang hadir mendukung Brasilia, yang membentuk grup lebih besar dan yang duduk lebih dekat dengan layar televisi, sementara pendukung Kroasia agak sedikit jumlahnya tetapi cukup merepotkan kelompok yang lebih besar, sama seperti para pemainnya di lapangan merepotkan pemain Brasilia.

Dari permainan yang terjadi, banyak orang tentu mengharapkan Brasilia menang telak di awal-awal atau kalau tidak di babak pertama. Akan tetapi itu tidak terjadi. Fakta di lapangan pertandingan justru Kroasia mengisi gol duluan, dan Brasilia menyusul. Ini saja sudah mengecewakan banyak penggemar Brasilia tentunya. Tetapi kemudian setelah terjadi pembalasan dan menjadi posisi satu satu, maka pendukung Brasilia sudah berharap-harap cemas.

Beruntung saja wasit memberikan hukuman tendatang “penalty” pada babak kedua yang berakibat Brasilia menambah skor menjadi dua. Kalau tidak, skor ini kelihatan sulit berubah.

Baru setelah Ramirez dimasukkan menggantikan pemain bernomor puggung 10 dari Brasilia: Neinmar-lah mereka menjadi bertambah tenaga dan semangat untuk mengisi gol, yang berakibat gol tercipta di akhir babak kedua dan akhirnya skor menjadi 3-1 untuk tuan rumah Brasilia. Entah itu berkat kehadiran Ramirez atau karena alasan lain, yang jelas kehadiran Ramirez membawa angin segar.

Ada beberapa penonton marah kepada pelatih Brasilia katanya, “Ramirez seharusnya bukan jadi pemain pengganti, tetapi dia  harus jadi pemain inti.”

Selamat untuk Brasilia atas kemenangan pertama di pialah Dunia 2014.

Thursday, 29 May 2014

Menu Minuman di BANANA Leaf Cafe

Menu Minuman

Untuk sementara ini kami tawarkan kopi murni (black coffee) tetapi selanjutkan akan ditambah menu lain.

  1. Kopi Murni Gelas Besar
  2. Kopi Murni Gelas Sedang
  3. Kopi Murni Gelas Kecil
  4. Kopi Gula Gelas Besar
  5. Kopi Gula Gelas Sedang
  6. Kopi Gula Gelas Kecil
  7. Kopi Creamer Gelas Besar
  8. Kopi Creamer Gelas Sedang
  9. Kopi Creamer Gelas Kecil
  10. Kopi Gula Creamer Gelas Besar
  11. Kopi Gula Creamer Gelas Sedang
  12. Kopi Gula Creamer Gelas Kecil

Nonton Bareng Piala Dunia 2014 di Banana Leaf Cafe, Maguwoharjo, Sleman Yogyakarta

PAPUAmart.com dan BANANA Leaf Cafe mengundang semua penggembar Sepak Bola di Kota Kabupaten Sleman, Yogyakarta untuk datang ke BANANA Leaf Cafe, bertempat di:

Jalan Bedreg No. 39 RT 08, RW 41
Sambilegi, Maguwoharjo
Depk, Sleman Yogyakarta

Hubungi Roy Karoba 08570111131

Fasilitas Cafe:

  1. Televisi Layar Besar
  2. Baliem Blue Coffee
  3. Free WiFi
Sementara ini Banana Leaf Cafe sudah dibuka sepanjang sore hingga malam hari. Di pagi hari Anda juga boleh datang.

Untuk beli kopi silahkan hubungi John Kwano 081238301001 di PAPUAmart.com, Pasar Online, Offline dan Barter Produk Spesialti di alamat yang sama atau kirim email ke: info@coffea.biz




Tuesday, 13 May 2014

BANANA Leaf Cafe telah dibuka sejak 10 Mei 2014 di Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta

Bagi semua teman penikmat kopi, terutama mereka yang ingin merasakan Kopi dari Tanah Papua, mulai dari Kopi Senang Sorong, Kopi Arfak Manokwari, Kopi Amungme Gold, Kopi Baliem Blue, Kopi Moanemani, Kopi Goroka, Kopi Hagen, Kopi Sigiri (tiga yang terakhir dari Negara tetangga Papua New Guinea).

BANANA Leaf Cafe sebagai Cafe pertama yang didirikan oleh Orang Asli Papua sepanjang sejarah bangsa Papua sampai hari ini menyajikan menu-menu yang memang aneh tapi nyata. Ada menu Kopi Wamena.

Para pelayan juga orang Wamena sendiri, yaitu mahasiswa/i asal Wamena yang berstudi di Kota Yoygkarta ditugaskan oleh Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica untuk membantu dalam menjalankan Cafe dimaksud.

BANANA Leaf Cafe merupakan satu paket dengan PAPUAmart.com, yaitu Pasar Online, Offline dan Barter Produk Spesialti yang didirikan oleh KSU Baliem Arabica.

BANANA Leaf Cafe merupakan sebuah wujud pertaruhan jatidiri dan harga diri bangsa Papua, mengingat Cafe ini secara exclusive hanya menyajikan kopi-kopi Single Origins dari Tanah Papua (Timur sampai Barat pulau New Guinea) dan semuanya ialah Kopi Organik dan Kopi jenis Arabica.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan Hubungi Roy Karoba di: 085701111317

Friday, 5 October 2012

Sagu: Kuliner Ambon yang Serba Guna

Ulat-ulat sagu ini ternyata adalah snack bagi para petani sagu.
Meski para penjelajah Eropa menjuluki Maluku sebagai the spice island, namun bagi warga Maluku Selatan khususnya Ambon, yang menjadi santapan utama mereka sehari-hari bukanlah kuliner bertabur rempah dengan aroma menusuk hidung. Bangsa Eropa memang telah mengidentikkan Maluku dengan rempah-rempah. Tapi Pak Jack, pemandu saya justru membawa saya menelusuri gudang kuliner warga Ambon yang sangat melegenda dan jauh dari nuansa spicy yaitu Sagu.
Saya menyusuri daerah Salahutu dalam perjalanan dari Hunimua menuju Waai. Mobil berhenti di pinggir jalan sepi di antara hutan dan pedesaan. Beberapa warga lokal menghampiri saya dan Pak Jack. Mereka adalah petani Sagu yang sedang memanen beberapa pohon jauh di dalam hutan.
Melewati trek ringan membelah hutan dan beberapa kali menyebrangi sungai, akhirnya saya tiba di sebuah lahan terbuka. Seorang lelaki terlihat sedang sibuk memukul-mukul isi batang pohon yang sudah kosong setengahnya dengan menggunakan nani (pemukul). Inilah proses awal pengambilan tepung sagu dari pohonnya. Tak ada peralatan modern. Semuanya masih sederhana.
Sebatang pohon sagu bisa menghasilkan sekitar 30 tumang (bungkus) yang dikerjakan dalam waktu empat hari. Bila dikonsumsi, bisa memakan waktu sekitar tiga bulan untuk meghabiskan satu pohon sagu. Sagu sendiri di Ambon diproduksi menjadi beberapa macam makanan. Salah satu yang terkenal adalah Sagu bakar yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula nira. Selain itu ada juga papeda yang menjadi salah satu makanan pokok khas Ambon.
Para petani sagu ini juga ternyata memiliki kebiasaan unik saat memanen pohon sagu di tengah hutan. Saya diajak untuk masuk lebih jauh lagi mencari batang sagu yang sudah membusuk. Bukan untuk mengambil sisa sagunya tapi untuk mencari ulat sagu.
Ya! Ulat sagu yang ukurannya cukup besar (sebesar jempol orang dewasa) denganbody-nya yang gendut sambil bergerak-gerak. Ulat-ulat sagu ini ternyata adalahsnack bagi para petani sagu. Sembari memotongi pohon sambil mengeluarkan isinya yang memakan waktu empat hari, para petani sagu biasanya menyantap ulat sagu sebagai cemilan. Namun tak semua orang bisa melahap cemilan ekstrim ini. Pak Jack mengingatkan saya akan tingginya kandungan kolestrol pada seekor ulat sagu.
Jika ulat sagu adalah cemilan alami, maka minuman alami para petani sagu adalah Sageru. Sejenis tuak yang dihasilkan dari pohon Nira. Sageru adalah bakal Sopi, minuman keras khas warga lokal. Kadar “keras” dalam Sageru memang sangat rendah dibanding Sopi. Tapi rasa gurih pada sageru bisa membuat ketagihan dan lupa diri.
Bagi warga Maluku, pohon sagu adalah pohon serba guna. Selain bisa diolah menjadi tepung sagu, daunnya bisa digunakan untuk atap rumah yang kuat selama tujuh tahun. Kulit pohon yang sudah kering juga dapat dijadikan kayu bakar.
Setelah pohon sagu dikikis isinya hingga menyerupai parutan kelapa yang sangat halus, butiran sagu dibawa ke tempat penyaringan. Di sini, sagu direndam air yang diambil dari sungai untuk kemudian disaring. Endapan dari saringan inilah yang kemudian menjadi tepung sagu. Semuanya diolah dengan menggunakan peralatan yang masih sangat sederhana dan asli dari alam.
Hutan sagu ini memang menyediakan segalanya. Mulai dari pohon-pohon sagu yang bisa diolah menjadi berbagai makanan, atap rumah dan kayu bakar, pohon nira yang menghasilkan minuman  sekelas Vodka hingga cemilan ekstrim yang terdapat dalam pohon sagu yang membusuk.
Keluar dari hutan, Pak Jack membawa saya ke kediaman keluarga Silooy untuk mencicipi sagu bakar khas Ambon. Kediaman keluarga Silooy terletak di pinggir laut dan nyaris meninabobokan saya karena suasananya yang amat sangat nyaman. Di sini saya bisa menyaksikan cara memasak sagu bakar dengan peralatan yang masih sederhana.
Porna adalah nama cetakan sagu yang bentuknya persegi panjang terbuat dari tanah lempung dengan lubang-lubang kotak di dalamnya, mirip cetakan batako. Sagu yang sudah dicampur dengan parutan kelapa dimasukkan ke dalam porna yang terlebih dahulu dipanaskan di atas api. Gula nira ditaburkan di atasnya sebagai pemanis.
Setelah dipanaskan di dalam porna selama sekitar 15 menit atau hingga warna kecoklatan, sagu kemudian dipisahkan dari porna dan siap disantap. Saat baru matang, sagu bakar terasa sedikit mirip wingko babat (cemilan khas Semarang). Benar juga kata warga setempat. Sagu tak sekedar makanan, tapi juga bahan serba guna. Dari pohonnya yang sudah membusuk, bisa menghadirkan si ekstrim ulat sagu yang jadi cemilan, daunnya bisa dijadikan material rumah, kulit batangnya jadi kayu bakar dan sagunya sendiri bisa dijadikan sahabat minum teh atau Papeda.

Monday, 3 September 2012

Sagu Lempeng, Murah Namun Mewah

“kletak” batangan berwarna merah itu saya gigit. Keras dan rasanya ada serpihan pasir yang menyebar di lidah. Tingkah laku saya yang asli orang Jawa langsung disambut Mace, Pace Papua dan Jong Ambon. Itulah pengalaman pertama dikerjain teman-teman dari Papua dan Ambon yang menyuguhkan sagu batangan. Benda persegi berwarna merah mirip tahu ini memang kerasnya bukan main jika digigit. Ternyata ada caranya menikmati sagu batangan ini, dan tak asal gigit dan telan mirip buaya seperti apa yang telah saya lakukan.

Sagu lempeng menu baru di meja kantor foto KomPasiana
Sagu merupakan makanan pokok dan khas bagi penduduk di Papua dan Maluku. Bahan makanan berbahan batang Rumbia/ Sagu (Metroxylon sago) yang sudah dipangkur tak beda jauh dengan gandum atau tapioka. Banyak beragam makanan yang dibuat dari bahan baku sagu, seperti;  papeda, sinoli, ongol-ongol, sagu lempeng, sagu gula, sagu tumbuh, bubur ne,  dan Bubur Mutiara. Ada satu yang unik dari sagu yang kebetulan ada didepan mata ini, yakni sagu berbentuk lempeng.

Biasanya sagu yang dikenal sudah dalam bentuk tepung atau butiran bulat warna-warni. Penasaran dengan makanan satu ini lantas ngobrol dengan  teman-teman dari Papua dan Ambon yang sore itu menikmati sagu lempeng. Sambil mendengarkan lagu yang didendangkan Edo Kondologit yang berjudul Pankur Sagu, kami menikmati sagu lempeng sambil ditemani teh panas.

Sagu lempeng, adalah tepung sagu yang dimasukan dalam cetakan tanah liat lalu dipanaskan dengan cara dipanggang. Warna merah yang muncul dari ini tepung sagu yang dipanaskan dalam cetakan  dan disebut Porna, demikian Jong Ambon menjelaskan. Sangat menarik  sekali pengolahan sagu lempeng ini, namun nilai tambah dari pengolahan ini adalah sebuah teknologi pangan untuk pengawetan. Pengawetan dengan pemanasan, yakni dengan mengurangi kadar air mampu menghambat pertumbuhan mikroba dan jamur, sehingga sagu bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama. Beberapa modifikasi juga ditambahkan dalam membuat sagu lempeng ini. Penambahan bahan-bahan seperti kacang dan gula sebagai komposisi sagu lempeng adalah modifikasinya untuk memberi nilai tambah.

Cukup di Colo (Maluku/Papua) / celup di teh panas atau susu, maka sagu lempeng sudah bisa dinikmati. Sumber Kompasiana
Berbicara kandungan nutrisi, sagu tak kalah dengan sumber pangan yang lain seperti; padi, gandum, jagung dan singkong. Sagu memiliki kandungan gizi karbohidrat 84,7%; Protein 0,7%; lemak 0,2%. Tak salah jika masyarakat Papua dan Maluku memanfaatkannya sebagai bahan pangan. Kandungan kalori sebesar 353kal/100gr sagu menjadi sumber energi yang tak kalah dengan bahan pangan lain.

Stigma sebagian besar masyarakat, kalau belum makan nasi belum makan yang acapkali memarjinalkan makanan unik ini. Sagu lempeng, seharusnya menjadi keanekaragaman pangan dan tidak hanya di Indonesia timur saja, seharusnya ke seluruh penjuru tanah air. Saya puas, kenyang makan sagu ini walau rasanya asing, namun ternyata enak juga. Kesan aneh pertama kali menggigit kerena tidak tahu, begitu paham bagaimana mengkonsumsinya malah menjadi ketagihan. Pagi hari sarapan, cukup teh manis atau susu dan sagu lempeng selamat tinggal nasi untuk beberapa waktu.

foto dok.pri